Design a site like this with WordPress.com
Get started

WWOOF TRIP 1 : PETERNAKAN KAMBING DI INTERLAKEN

Aku ingin berbagi cerita tentang solo trip ke Swiss dan Perancis. Trip ini adalah trip WWOOF, aku akan tinggal di 3 host yang berbeda, 2 di Swiss dan 1 di Perancis. Kalau mau tau apa itu WWOOF, silakan baca postingan sebelumnya ya,

Singkat cerita, aku memutuskan break kerja sementara. Planning ngisi waktu senggang dengan ngetrip WWOOF.

Inflight Meals Thai Airways

Sekitar Maret 2018 lalu, aku dapat tiket promo ke Zurich pake Thai Airway. Sept tahun 2017 kemarin, aku juga ke Swiss naik maskapai ini. Promonya lumayan dan service cukup baik. Rutenya JKT-BKK-ZRH. 

Setelah daftar di WWOOF Perancis dan Swiss, aku mulai mengirim beberapa email request. Sekitar 2 mingguan, aku mendapat respon dari 3 host, peternakan kambing di Interlaken Swiss, kebun apel di Bern dan kebun sayur di Perancis.

3 Sept 2018 Landing di Zurich masih pagi, jam 7:30. Langit mendung kelabu, langsung terserang hawa dingin pas turun pesawat. Setelah mengambil bagasi, aku menuju toilet untuk cuci muka sama gosok gigi. 

Tujuan pertamaku adalah host di Interlaken. Mereka adalah peternak kambing dan pembuat keju tradisional yang saat ini tinggal di area Alpen. Yup, pegunungan legendaris itu. Aku menghubungi Claudia, host-ku di Interlaken untuk konfirmasi kedatanganku plus info penjemputan. Dia bilang Angela, partnernya yang akan menjemputku di Interlaken Ost. Alhamdulillah udah pernah kesana jadi tidak begitu asing and kuatir nyasar. Udah booking day saver ticket untuk trip bandara ke Interlaken ost. Yes, transportasi adalah bagian yang paling bikin nyesek saat bikin budget ke Swiss. Mahalnya tiada terkira.

Tips : Untuk Transportasi di Swiss, silakan instal apilkasi SBB Mobile. Bisa pesan tiket online juga. Jika tidak terlalu lama di Swiss, dan ingin lebih hemat, Day Saver bisa jadi pilihan. Pesan jauh-jauh hari agar dapat harga lebih murah. Biasanya, aku dapat harga 52CHF, integrated untuk bus, kereta, kapal unlimited dalam area yang tercover dengan masa berlaku dari jam 00:01 sampai jam 05:00 hari berikutnya

Interlaken Ost Station

Perjalanan dari Zurich Airport ke Interlaken Ost hanya sekitar satu sejam setengah. Sampai di Interlaken Ost masih jam 11.30, padahal aku minta dijemput jam 2 siang. Jadinya aku ngemper di Ticket office, menikmati wifii gratis. 

Jam 2 pas, sebuah mobil ford silver, seperti info dari Claudia berhenti di parkir zone pas depan tempat aku duduk, seseorang yang sekilas first sight lebih mirip pria berjalan dengan senyum di bibirnya kearahku, reflek aku berdiri menyambut uluran tangannya. Hi, i am Angela… Hello, i am Emi. Thank you for picking me up. Sedikit salah tingkah karena aku memanggilnya Mrs, padahal dia lebih mirip Mister.

Interlaken dari atas

Angela membantuku membawa 2 karung bawaanku ke mobil. Horaaa…. sempat kaget karena di jok tengah duduk manis seekor anjing shepherd hitam dengan mata berbinar. Ok… kejutan kedua.

Sepanjang jalan Angela bercerita jika saat muda dia suka travelling, bahkan pernah tinggal di Medan selama 3 bulan. Dia masih ingat durian, kopi manis, ikan mas, sambal, hingga berhitung satu dua tiga empat tujuh. Dibalik penampilan tomboi-nya, Angela sangat ramah dan bersahabat, akupun jadi cepat nyambung ngobrol dengannya.

30 menit, mobil kami mulai masuk area hutan, kemudian parkir di kaki gunung pas disebelah papan bertulis “Alps”. Akupun tercengang karena disana hanya ada jalan setapak masuk hutan untuk hiking, dan itulah jalan yang harus aku tempuh (ehem) untuk menuju tempat Claudia beserta kambing-kambingnya, mungkin semalam hujan sehingga tanah nampak basah dan becek. Akupun berusaha menutupi kekagetanku dengan wajah excited palsu. Pura-pura sudah biasa naik gunung dan siap dengan medan apapun… padahal dalam hati ingin balik kanan, trus bikin tenda aja di seberang danau Interlaken sana.

Kambing yang Anggun

Angela menawarkan untuk menyimpan 1 tasku di rumah mereka di kota agar memperingan pendakian kami, itupun Angela menawarkan untuk membawa ranselku dan aku hanya membawa tas jinjing berisi barang-barang kecil. 10 menit mendaki, aku masih waras, nafas masih wajar meski ngos-ngosan, Alhamdulillah sudah sarapan di pesawat. 15 menit baru berasa nafas mulai seret, 20 menit mau pingsan. Melihat aku kecapaian, Angela menawarkan istirahat. Dari atas sini, pemandangan Interlaken nampak cantik, dengan danau warna turquois dan rumput hijau.

Setelah perjuangan naik gunung selama 50 menit, sampailah kami di sebuah rumah kayu dengan bagian belakang rumah terbuka, rupanya itu adalah tempat untuk memerah susu sehari 2 kali, bekas jejak kaki kaki kambing masih tercetak di tanah basah, aroma srintil (kotoran kambing) segar membahana, shock kesekian kali karena dibagian depan rumah ini adalah rumah tinggal yang akan aku tempati 10 hari ke depan. Kesan pertama, tentu saja jorok karena urin kambing sangat menyengat, sehingga tercium sampai di teras depan, bau yang kemudian hari membuatku rindu. Namun rumah bagian depan yang digunakan sebagai tempat Claudia membuat keju dan tempat tinggal kami lumayan bersih.

Saat itu, kebetulan sedang ada rombongan anak-anak SMP yang sedang menginap disana. Ada 3 anak lelaki dan 3 perempuan, yang ternyata berkebutuhan khusus. Mereka hanya menginap 2 malam untuk berakhir pekan dan melihat aktifitas pembuatan keju tradisional.

Claudia sendiri memiliki 3 putri cantik, si sulung Sajjane 11 tahun, Moira 8 tahun dan Thilia 5 tahun. Mereka adalah gadis kecil periang yang luar biasa mandiri dan cerdas. Claudia hanya tinggal di rumah gunung saat musim panas, dan gadis gadis kecil itu hanya disana saat libur sekolah. Mereka memiliki rumah di lembah, pas di tepi danau Interlaken. Sementara Angela hanya sesekali ke gunung, dia bertugas merawat rumah di lembah yang sekaligus menjadi penginapan AirBnB dan bertanggung jawab merawat beberapa kambing di tempat lain.

Fakta unik tentang bahasa di Swiss. Ternyata, Swiss memiliki bahasa German yang diadaptasi dengan bahasa Perancis dan Itali, karena negara ini terletak diantara 3 negara tersebut. Bahasa German Swiss berbeda dengan German asli, bahkan tidak mudah dipahami oleh native German. Secara resmi, di sekolah dan untuk urusan resmi lain, orang Swiss rata-rata menggunakan bahasa German, sementara untuk bahasa sehari-hari, mereka menggunakan Swiss German. Bahasa Perancis digunakan di wilayah yang berbatasan dengan Perancis seperti Neuchatel. Bahasa Itali di daerah yang mepet Itali. Pada setiap kemasan produk, ada penjelasan dalam 3 bahasa di atas.

Claudia memiliki seorang asisten, gadis shepherd asal German bernama Lea. Tampilannya nyentrik dengan rambut rasta, namun matanya teduh bersahabat. Sore itu juga Lea menawari aku untuk belajar memerah susu kambing. Huwaaaa…. 150an ekor kambing saudara-saudara. Beruntungnya, September adalah akhir musim panas sekaligus akhir musim produktif bagi kambing, sehingga rata-rata hanya perlu waktu sekitar 3 jam saja. Iya, 3 jam. Bayangin coba pas musim produktif,😖.

Rumah Keju

Kambing bukanlah binatang yang asing bagiku, mereka juga termasuk peliharaan yang loveable, tapi injakan marah kambing dewasa adalah sesuatu yang tidak bisa disebut mesra. Pertama memcoba memegang payudara (atau apa sih istilahnya?) mereka horor juga, takut menyakiti mereka, meski binatang, ada rasa solidaritas juga sebagai sesama wanita (hahahaha…), kan ga nyaman ya kalau bagian sensitif itu dipegang orang asing? Meski terlihat sederhana, namun memeras susu kambing ternyata tidak mudah, perlu jemari yang kuat.

Prosesnya, pertama semua kambing dimasukkan ke kandang, kemudian per 12 ekor dikeluarkan, diikat pada tempat khusus, kambing berjajar sambil diberi makan, mereka akan diperah satu persatu. Sebelum memasangkan vacuum, tiap puting harus diambil sample susu terlebih dahulu agar bisa diketahui jika ada kelainan, seperti nanah atau darah. Bisa terjadi pada kambing yang sedang sakit atau terinfeksi karena putingnya digigit bayi mereka yang menyusu. Setelah selesai diperah, 12 kambing tadi dikeluarkan lagi dan 12 kambing baru dimasukkan, begitu sampai selesai.

Susu segar hasil perahan selanjutnya didinginkan secara natural dengan air mengalir, can susu  dimasukkan ke dalam bak besar mirip bathtub, kemudian bak diisi air yang dibiarkan terus mengalir, biasanya semalaman. Air yang kami konsumsi adalah air dari pegunungan Alpn yang aman diminum langsung tanpa dimasak. Keren banget kan? Semacam punya pabrik aqua pribadi.

Esok harinya, susu tersebut baru akan diolah, susu dipanaskan dengan api dari kayu, hingga batas hangat tertentu kemudian diberi cairan khusus untuk keju. Setelah beberapa saat, susu akan menggumpal seperti yogurt, kemudian baru disaring untuk dicetak. Keju tidak suka dingin, jadi pada saat pembuatan harus selalu memperhatikan suhu. Ada pekerjaan lifting yang cukup berat selama proses ini. Termasuk menuang susu dari can ke panci gede untuk digodok. Aku sempat dapat luka bakar di pergelangan tangan karena  nyenggol panci panas pas bantuin Lea menuang susu.

Sambel Oelek made in Swiss

Claudia memiliki sebuah rumah kecil dari kayu untuk menyimpan keju, semua alami, tanpa proses kimia sedikitpun. Oiya, keju yang masih muda harus selalu diperiksa karena sangat rentan menjadi sarang larva serangga yang menerobos masuk ke ruangan. Setiap hari keju muda juga perlu dibolak balik dan dilumuri garam khusus. Ribet ya, seperti merawat bayi. Berbicara mengenai keju dari susu kambing, rasanya lebih kuat dari keju susu sapi, karenanya harganya lebih mahal. Bisa dibilang premium. 

Bersambung part 2

Advertisement

Published by EmiTj

I love travelling and farming, so i combine both

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: