WWOOF TRIP FRANCE : LADANG SAYUR ORGANIK DI BAGARD

Tujuan WWOOF ku selanjutnya adalah ladang sayur organik di Bagard, Perancis. 

Bagard adalah komune, semacam desa kecil di Departemen Gard, Occitanie, Prancis Selatan. Perjalanan dari Swiss lumayan panjang penuh cerita, termasuk drama ngemper dini hari di pinggiran stasiun Lyon. Kala itu aku menggunakan Flixbus dari Interlaken-Milan-Lyon-Nimes-Ales-Bagard. Perjalanan hampir 24 jam dengan 2 kali transit di Milan dan Lyon. Sekali lagi, atas nama penghematan budget.

Untuk alternatif transportasi yang lebih murah di Eropa, bus memang pilihan terbaik. Yang pernah aku coba adalah Flixbus dan Eurolines. Rute bus hampir menjangkau seluruh wilayah Eropa, antar kota, antar negara. Tiket bisa dipesan online, kita hanya perlu menunjukkan code QR untuk di-scan saat naik. Tersedia aplikasinya untuk di-download. 

Bus memang lebih murah, namun kurang ramah lingkungan. Sebagai kompensasi terhadap emisi CO2 yang dihasilkan oleh penggunaan bus, Flixbus mengenakan biaya tambahan sekitar 0,57Euro yang sifatnya optional. Hanya sekitar Rp. 10.000 kok.

Bus dari Lyon, hanya sampai di Nimes, aku harus menggunakan kereta untuk menuju Ales. Ternyata, bus central Nimes dan stasiun kereta agak berjauhan, sekitar 3Km. Karena tidak ada wifii aku tidak bisa menggunakan Google Map. 

Saat itu di terminal bus sangat sepi, hanya ada seorang bapak-bapak yang baru turun dari mobilnya. Aku sok akrab menyapa untuk bertanya rute jalan kaki ke stasiun. Sang Bapak kemudian membuka Google Map dan berusaha menjelaskan padaku dengan bahasa Inggris logat Prancis. Namun kemudian dia malah mengajakku naik mobil. Beliau mengantarku ke stasiun. Kesan pertama yang sangat manis di Nimes.

Aku sudah memesan tiket kereta ke Ales melalui internet. Nimes-Ales hanya 30 menit tiket seharga 5Euro. Harga tiket selalu berubah-ubah, kurang tau kenapa. Pas rute balik aku dapat tiket seharga 9Euro. Aku sudah mengirim SMS ke hostku, Vincent yang akan menjemputku di Stasiun Ales. 

Sampai di Ales jam 2 siang, namun aku tak melihat seorang lelaki dengan ciri-ciri yang disampaikan Vincent. Menunggu 15 menit, 30 menit, aku mulai khawatir jika ada yang salah. Namun kemudian sebuah mobil Van kuning (Van Kuning DHL) berhenti di parkiran stasiun. Seorang lelaki usia 40an turun dan berjalan ke arahku. Kami bersalaman, ngobrol sebentar, kemudian Vincent membantuku memaruh barang bawaan di mobil.

Dari stasiun Ales ke Bagard, rumah Vincent hanya sekitar 20 menit. Bentang alam Bagard berupa bukit dengan tumbuhan perdu. Berasa kaya di Mesir atau Arab. Banyak ladang Zaitun dan Anggur. Saat itu musim gugur, namun matahari masih terik, suhu masih sekitar 30an Celcius. Panas. Wilayah ini masuk area taman nasional Cavannes.

Vincent adalah seorang petani sayuran organik. Dia awalnya adalah seorang Quality Control Staff di perusahaan Farmasi di Montpellier, dengan latar belakang pendidikan medis dan farmasi. Dia memutuskan berhenti setelah 8 tahun bekerja. Tahun 2018 kemarin adalah tahun ke-9 nya menjadi petani setelah resign. Vincent tinggal bersama Cecile, pasangannya. Vincent memperkenalkan Cecile dengan penekanan sebagai partner, bukan Istri karena mereka tidak menikah. Pas setahun lalu, putra pertama mereka lahir. Namanya Cassion.

Cecile adalah seorang wanita karir yang sangat ramah dan cerdas. Dia memiliki latar belakang pendidikan ilmu komunikasi, sastra dan bahasa Arab. Cecile bekerja di kantor komune, semacam kantor kecamatan atau kantor desa. Tugasnya mengurusi isu sosial dan mengajukan proposal untuk pembangunan komune. Karena itu dia sering bertemu pejabat pemerintah dan sangat peka terhadap isu sosial politik. Ngobrol dengan Cecile tentang apa saja adalah bagian yang paling aku nikmati saat menjadi WWOOFer disini. 

Kebun organik Vincent memproduksi kentang, bit, wortel, tomat, berbagai jenis selada, bawang bombay berbagai jenis, labu, semangka, melon, paprika, terong. Hasil panen dijual di toko khusus produk organik dan juga melalui order online.

Aku tinggal di keluarga ini selama 7 hari, dengan 2 hari libur. Sabtu Minggu kebun tutup. Pekerjaan yang aku lakukan antara lain panen tomat, panen paprika, panen bit, menanam selada, memilah bawang bombay untuk dijual dan membersihkan labu panen bulan lalu yang berdebu. Jam kerja lumayan pendek, dari jam 8-12 setelah makan siang aku bebas mau ngapain aja. 

Keluarga kecil itu normal seperti keluarga-keluarga kecil disini. Aku tidak merasakan culture shock yang cukup berarti. Yang unik justru tentang posisi Vincent sebagai suami yang lebih banyak mengurusi pekerjaan rumah dari pada sang istri. Memasak, laundry, beres-beres maupun momong sepertinya sudah diambil alih Vincent. Awalnya itu adalah pemandangan yang aneh bagiku, melihat suami masak sementara istri ngobrol, terus pas anak kebangun juga suami yang nyamperin duluan. Tapi bagi Vincent sendiri, itu hal biasa dan tidak ada yang aneh.

Senang melihat pasangan ini yang saling support. Vincent bilang, Cecile sangat mendukung karirnya sebagai petani organik. Di tahun pertama menjadi petani, Vincent hanya memperoleh penghasilan sekitar 1000Euro (17 juta-an, selama setahun). Namun Cecile dan keluarga Vincent terus mendukungnya baik secara moral maupun financial, hingga sekarang dia cukup sukses dengan penghasilan cukup. 

Cassion adalah bayi lucu dengan mata teduh. Sadar diri tak punya pengalaman momong bayi, aku awalnya takut main dengan Cassion. Dia baru belajar berjalan saat itu. Namun ternyata, pas pertama ketemu dia langsung nyaman bersamaku. Waktu itu Cassion sedang menangis karena kepentok pintu. Ditenangkan oleh ayahnya gagal, namun pas aku coba menyapa dia langsung diam dan minta gendong. 

Rutinitas keluarga kecil itu dimulai jam 7 pagi, Vincent bangun lebih dulu kemudian menyiapkan sarapan. Setelah selesai sarapan kemudian menyiapkan keperluan Cassion untuk dititipkan ke nanny. Susu, makanan bayi dan baju. Disaat Vincent menyiapkan barang-barang Cassion, aku dan Cecile masih asyik sarapan sambil ngobrol. Jam 8 pagi, Cecile membawa Cassion bersamanya untuk dititipkan, karena kantor Cecil dekat dengan rumah nanny. Sementara Vincent mulai pergi ke kebun. 

Jam makan siang di Perancis adalah jam 12-2 siang. Di jam itu rata-rata toko atau kantor tutup. Biasanya Vincent menyiapakan makan siang jam 1 siang. Jam 5 sore, tugas menjemput Cassion adalah bagian Vincent. Sampai di rumah, Cassion punya waktu 2-3 jam untuk main sekaligus makan malam. Semua mainanya adalah mainan edukatif dari bahan organik

Vincent biasanya mengawasi Cassion bermain sambil menyiapkan makan malam. Berhubung nyambi momong, sering kali jam makan malam molor sampai jam 10. Krucuk krucuk.

Di keluarga ini aku lebih banyak belajar tentang ilmu rumah tangga dari pada ilmu pertanian. Ternyata tidak peduli kewarganegaraan, masalah keluarga masih sama saja. Suatu malam, aku menyaksikan mereka bertengkar. Saat itu seharusnya jam makan malam. Vincent sudah masak, makanan siap di meja. Aku sudah kelaparan tingkat akut, tapi sang tuan rumah sedang bertengkar di kamar mereka. Terjebak pada moment seperti itu rasanya sedih sekaligus konyol. Sampai jam 11 malam, pertengkaran mereka belum selesai, karena makin tidak nyaman dan ngantuk, aku memilih tidur. Sempat parno juga kalau-kalau pertengkaran itu jadi berlanjut ke KDRT saking serunya. Alhamdulillah, enggak. Keesokan harinya mereka sudah berbaikan bahkan meminta maaf padaku atas kejadian semalam. Lega,  

Di hari terakhirku bersama keluarga ini Cecile mengajakku mengunjungi sebuah desa cantik bernama Anduze yang ternyata hanya 15 menit dengan mobil dari rumah. Desa ini benar-benar indah dan memang menjadi tujuan wisata yang masuk wilayah taman nasional Cevennez. Disana banyak hotel dan restoran. OK, wish list untuk honeymoon

Taken from Flickr by Mantis of Destiny

Keluarga Vincent sangat ramah dan openminded, bahkan aku juga dikenalkan pada Ayah dan Ibu tirinya, sempat diundang makan siang bareng juga. Cecile adalah teman curhat yang menyenangkan dan bijak. Yang paling bikin kangen tentu saja senyum dan kecupan Cassion.

WWOOF TRIP JAPAN : KEBUN JERUK DI WAKAYAMA

Ini merupakan trip WWOOF ku yang pertama.

Request WWOOF ku disambut dengan sangat cepat dan ramah oleh Hiro San di Ibe Farm, kebun jeruk organik Keluarga Ibe di Prefecture Wakayama, Kansai Jepang. Dari Bandara Kansai sekitar 1 jam dengan mobil, saat itu aku dijemput oleh Hiro san dan istrinya di bandara Kansai. Kesan pertama yang sangat manis.

Keluarga Ibe terdiri dari Hiro San, Sachi-San istrinya dan Obaa-Chan. Obaa-Chan adalah Ibu Hiro San, sekaligus pemilik Ibe farm secara turun temurun. Saat itu, usia beliau sekitar 85 tahun, namun masih sehat dan kuat melakukan pekerjaan ringan.

Akomodasi bagi WWOOF yang mereka sediakan adalah kamar di lantai 2 rumah Obaa-Chan yang baru selesai direnovasi. Rumah bergaya Jepang Modern, material didominasi kayu dengan fasilitas modern. Full Wifii, Bathtub plus kursi pijat punya Obaa-chan yang sering dipinjamkan untukku. Aku akan tinggal bersama keluarga ini selama 7 hari.

Kala itu, awal Maret 2018, sedang peralihan musim dingin ke musim semi. Jeruk-jeruk sedang ranum-ranumnya. Aku sangat beruntung, pengalaman pertama WWOOF sendiri, dapat Host yang super baik, akomodasi yang super nyaman, dan makanan enak plus halal. Pekerjaan pun sangat simple, cuman petik jeruk.

Sesaat setelah sampai rumah, aku diberi semacam jadwal oleh Hiro San, Orang Jepang memang super disiplin.

  • 07:00 pagi sarapan, self service, ada roti dan susu
  • 07:30 mulai bekerja
  • 09:30 Coffee Break
  • 10:00-12:00 Kembali bekerja
  • 12:00-13:00 Makan siang dan istirahat. Setelahnya bebas

Setelah memberi briefing tentang jadwalku, Hiro San dan Sachi San menunjukkan kamarku, dan menjelaskan secara singkat tentang isi rumah. Kemudian memberiku APD (Alat Pengaman Diri) untuk bekerja yang terdiri dari sepatu boots, jaket dan celana anti air, sarung tangan, dan topi pelindung. Orang Jepang itu memang luar biasa. Budaya safety mendarah daging diterapkan sampai ke level-level paling sederhana dalam keseharian mereka. Salut!

Pagi pertama hari itu, aku diajari cara memetik jeruk. Cukup memotong tangkainya dengan gunting, masukkan ke keranjang pelan pelan agar tidak rusak. Sesimple itu. Kebun jeruk Ibe, berdekatan dengan kebun-kebun jeruk warga lain yang sebagian besar masih menggunakan obat-obatan. Oleh karena itu, yang murni organik hanya pohon-pohon yang berada di tengah kebun. Jeruk-jeruk itu dipisahkan dengan yang kemungkinan terpapar obat-obatan dari kebun sebelah. Kejujuran Jepang memang jaminan mutu.

Yang paling berkesan dari keluarga Ibe adalah keramahan, kehangatan dan makanan masakan Sachi-San yang luar biasa. Bukan Sushi atau ramen. A lot more than that. Sebelumnya, mereka sudah mengetahui kalau aku Muslim, jadi tidak menyajikan babi. Terharu. Coba tengok menu makananku selama disana:

Di keluarga ini, aku lebih banyak membantu makan dari pada membantu metik jeruk. Seriusan, kenyang, sehat, sejahtera.

Hiro San bilang, sangat senang ada WWOOFer yang mau mengunjungi kebunnya. Selain membantu pekerjaannya, juga untuk menemani Obaa-Chan, menjalin persaudaraan dan berbagi ilmu. Masalah klasik di Jepang, banyak lansia yang kesepian.

Dapur idaman

Wakayama adalah salah satu prefektur penghasil Jeruk terbesar di Jepang. Di sini, semua rumah punya pohon jeruk, kebun, gunung-gunung juga penuh tanaman jeruk. Di Ibe Farm sendiri, selain untuk buah segar, jeruk diolah menjadi jus dan selai. Aku mendapat pelajaran membuat selai dari Sachi-san, hasilnya diberikan padaku sebagai oleh-oleh. Baik sekali kan….

Selai Jeruk buatan Sachi San

Oktober 2019 kemarin, aku mendapat kabar bahwa Obaa-Chan telah berpulang. Aku masih ingat betapa baik beliau. Meminjamiku kursi pijatnya, meminjamkan jaketnya karena kuatir aku kedinginan. Senyum dan kehangatan sikapnya akan selalu hidup dalam kenanganku. Meskipun terbatas bahasa, kami masih bisa ngobrol dan tertawa bersama.

Terima kasih keluarga Ibe, pengalaman pertama WWOOF yang sangat melekat dalam hati. Mereka bener-benar menunjukan keaslian keramah-tamahan Jepang. Omotenashi. Bagi kalian yang baru mau nyobain #WWOOFJapan aku sangat merekomendasikan keluarga ini.

Strasbourg : Kota tua yang awet cantik

La Petite France

Strasbourg adalah kota kecil di wilayah Timur Perancis, dulunya di sebut Alsace. Letaknya berdekatan dengan negara Swiss, Luxembourg dan Jerman. Aku memilih kota ini sekedar untuk transit sebelum menuju Bern. Letaknya strategis, jika menuju negara-negara sebelahnya, relatif dekat. Dari sini menuju Bern, hanya sekitar 4 jam dengan bus. Saat itu, aku menuju Strasbourg dari Paris dengan Flixbus. Waktu tempuh sekita 6 jam, tiket seharga 12 Euro. Berangkat dari Paris, Bercy Seine Terminal jam 11 malam, sampai di terminal Flixbus Strasbourg jam 5 pagi.

Tujuan utamaku mampir sini adalah kota tuanya yang di sebut “La Petite France”. Wilayah Alsace, selain Strasbourg juga ada Colmar sangat dikenal dengan ciri khas bangunan dan rumah-rumah berbingkai kayu yang masih terjaga baik. Gaya bangunan ini dipengaruhi oleh arsitektur Jerman, yang memang berdekatan secara geografis. 

Kecantikan bangunan di daerah Alsace, bahkan menginspirasi setting film Disney Beauty and The Beast. Pada December, kota ini terkenal dengan pasar Natalnya yang meriah. Mungkin ada yang pernah ingat, pada tahun 2018 kemarin, ada tragedi penembakan oleh teroris yang menewaskan beberapa orang di kota ini. Sedih ya, padahal kota ini kota yang damai. Aku menyaksikan beragaman masyarakatnya yang indah.

Pic. taken from internet

Kesan pertama saat sampai di kota ini, tenang dan bersih. Rasanya jetleg dengan keriuhan Paris.  Jalanan sepi, rapi dan banyak pepohonan. Hotel yang aku booking melalui booking.com terletak di dekat stasiun central Strasbourg yang bisa ditempuh dengan jalan kaki. 4km, ok lah..

Kota ini dilalui sungai besar, yang bersumber dari Swiss, sungai Reine. Aku memilih mengikuti alur sungai. Aliran sungai cukup deras, air jernihnya memantulkan cahaya matahari pagi yang baru bangun. What a calm city. Post Paris Syndrome, setelah mengunjungi Paris semua kota serasa kecil dan sepi, saking ramenya disana. Baru setengah jalan, mataku menangkap sesuatu yang sangat familiar. Sebuah kubah Masjid gede berwarna hijau. Iya, benar itu sebuah masjid. Terletak di perempatan jalan besar, bangunan masjid ini megah dengan area parkir luas. Aku terkagum… bukan tipikal masjid di negara Non Muslim yang biasanya bangunan kecil atau nyempil. Masjid ini sebesar masjid Agung di Jakarta. 

Cukup impressed dengan fakta bahwa ternyata di Strasbourg cukup banyak Muslim. Wilayah sekitar Masjid adalah semacam kampung Arab, banyak sekali resto Halal berjajar sepanjang jalan yang kulalui menuju hotel.

Aku cukup puas dengan kamar hotel, dengan harga 400rb semalam, dapat kamar single itu lumayan banget di Eropa. Biasanya mah cuman dapat dormitori. Kamar mandi sharing perlantai, ada 1 kamar mandi dan 2 toilet. Yang aku sayangkan hanya tidak ada fasilitas dapur umum, bahkan tidak ada kattle untuk sekedar merebus air. Huwaaa…… lesson to learn. Penting banget untuk teliti mengenai fasilitas hotel. Bagi budget traveler, dapur itu penting banget. 

Strasbourg Central Station, hanya 10 menit jalan kaki dari hotel. Stasiun ini bergaya megah, futuristic. Keren dah pokoknya. Petite France ternyata tidak begitu jauh dari central station, 15 menitan lah. Seluruh wilayah wisata kota ini bisa dan memungkinkan untuk ditempuh dengan jalan kaki. Kalau ga pelit2 banget kaya aku, bisa naik tram yang beroperasi hingga jam 12 malam. Kota ini sangat simple and convenient.

Benar, bangunan-bangunan tua disini benar-benar cantik. Nuansa negeri dongeng banget. Sayang, kamera HP ku tak cukup cangih untuk membidik kecantikan kota ini. Sungai jernih dan bersih membelah kota, bunga-bunga dan cafe-cafe dimana-mana. Tersedia wisata cruising sepanjang sungai dengan speedboat dan kapal. Kebayang gimana romantisnya malam-malam pegangan tangan dengan suami menyusuri tiap sudut kota ini.

Strasbourg Cathedral adalah landmark yang wajib ditengok juga. Arsitekturnya mirip Notre Dome.  

Setelah itu, jalan-jalan menyusuri pinggiran sungai yang asri aku menemukan banyak spot2 menarik sampai di gedung Perlemen Uni Eropa. Ya, ternyata (atau hanya aku yang baru tau), Strasbourg adalah ibu kota Uni Eropa. Disini berdiri megah kompleks gedung parlemen yang super keren dan futuristik. Sekitar gedung ini penuh taman luas dan rindang, Parc de Orange namanya. Ada juga taman yang cukup terkenal, Le Jardin des Deux Rives. Ada Jembatan super cantik disana. Sayang aku tak punya cukup waktu untuk kesana karena letaknya berada di luar area pusat kota.

Segala macam makanan ada disini. Ada resto Arab, Afrika, China juga. Resto Halal tak sulit ditemui. Jika ada waktu panjang di Strasbourg  bisa sekalian mampir Colmar yang sama cantiknya, hanya sekitar 30an menit dengan kereta dari Central Station. 

Bagi yang suka belanja, banyak sekali toko souvenir. Butik merk-merk baju terkenal bisa juga ditemui disini. Aku sempat tertarik untuk masuk sebuah toko buku, dan menemukan novel Pramoedya “Bumi Manusia” edisi Perancis disini. Bangga.

Strasbourg melebihi ekspektasiku. 2 hari yang berkesan di Strasbourg. Aku akan kembali bersama suamiku. Aamiin…

Mampir di Lauterbrunnen : Salah satu desa tercantik di dunia

Lauterbrunnen adalah next stop-ku setelah WWOOFing pertama. Aku memilih Lauterbrunnen karena dekat dengan Interlaken, hemat ongkos. Naik kereta dari Interlaken Ost cuman 20 menit, tiket ketengan seharga 7.6 CHF (sekitar Rp 106.400 dengan rate 14.000).

Lauterbrunnen

Lauterbrunnen terkenal dengan pemandangan alam yang super kece. Diapit oleh tebing gunung dan memiliki banyak air terjun keren yang jatuh langsung dari tebing dipinggiran lembah. Kabarnya total ada 70-an air terjun. Pernah baca kalau desa ini adalah salah satu yang paling cantik di dunia. Landscape alamnya, kalau dilihat-lihat mirip Ngarai Sianok di Sumatra. Bedanya cuman Ngarai Sianok tidak punya gunung salju.

Wilayah ini berdekatan dengan Jungfrau yang merupakan primadona turis asing. Jungfrau adalah puncak tertinggi Swiss yang bisa dikunjungi. Pemandangan di atas spektakuler penuh salju (dari cover brosurnya). Ada akses cable car jadi tidak perlu cape-cape mendaki. Cuman perlu bayar tiket yang muahat banget. Lucunya, 2 orang asli Swiss yang aku kenal, belum pernah dan tidak berminat ke Jungfrau. Mahal!

Transportasi untuk menjangkau daerah lain dari Lauterbrunnen tersedia kereta, bus dan cable car. Recommended banget selain ke Jungfrau juga ke Grindelwald dan Wengen. View di Grindelwald juga keren banget.

Ini adalah sebuah lembah, desa jadi ga begitu ramai dan ga ada mall. Fasilitas cukup memadai. Restaurant, hotel, toko souvenir, minimarket gampang dijumpai. Sebagai lokasi wisata yang cukup terkenal, tarif hotel masih terbilang terjangkau. Waktu itu aku menginap di Valey Hostel yang lokasinya PW banget. Dekat stasiun, gampang dicari, super bersih dan memiliki fasilitas lengkap untuk backpacker. Tarif permalam untuk kamar dormitori sekitar Rp. 600.000.

Banyak juga hotel berbintang, camping ground dan rumah yang disewakan untuk turis. Semua rumah bergaya pedesaan Swiss, dari kayu dengan banyak bunga warna warni. Cantik.

Aku menginap 3 malam di Valey Hostel. Nah, biasanya tiap nginep di dormitori, aku selalu milih woman only. Tapi pas booking di Valey Hostel tidak tersedia kamar khusus cewek. Sempat parno juga pengalaman pertama nginep di dormitori campuran. Beruntungnya saat itu kamar yang berisi 8 bed hanya terisi 2 di malam pertama, aku dan seorang pelajar dari Singapore. Malam kedua datang 2 cewek dari Bangladesh. Yes, mayoritas cewek. Aman.

Malam terakhir, full house. 5 cowok rombongan datang, 2 dari USA 3 lainnya dari Australia, Itali dan Perancis. Cowok Singapore check out kemarin.

Ternyata semua roommate ku ramah dan sopan sekali. Kami sempat ngobrol dan berbagi cerita saat makan malam, berbagi alamat e-mail juga. Si cowok Itali malah sempat pamer keahlian masak pasta. Al dente..!!! Katanya, mitos cowok Perancis itu paling romantis adalah salah. Italians do it better!. Kalau menurutku sih bukan romantis, tapi nggombal. Yang paling aku syukuri adalah ternyata tidak ada penghuni yang ngorok. Padahal pas tidur di dormitori cewek, hampir selalu ada yang ngorok.

Valley Hostel

Di hostel ini juga aku ketemu Mba Yuni yang menghibahkan bekal makanan. Ketemu Mbak-Mbak ruame buanget dari Aceh yang sedang holiday trip. Dia lagi sekolah S2 di Belanda. Saking cintanya sama Belanda, jaket, jilbab sampe ranselnya warna orange (awalnya aku kira dia The Jak Mania).

Trakking, hiking, bersepeda, naik cable car, skydiving atau paradigling adalah beberapa pilihan aktivitas disini. Ngintip di Tripadvisor deh untuk info lengkapnya. Berhubung aku hanya menikmati wisata gratis, jadi hanya seputar jalan-jalan sampai gempor, naik turun lembah, menikmati air terjun, main di sungai, leyeh-leyeh di rumput, nggodain sapi dan itupun sudah lebih dari bahagia.

Dari buku The Geography of Bliss karya Eric Weiner, salah satu kunci kebahagiaan orang Swiss adalah alam mereka yang indah. Aku setuju!!!

Ketemu orang-orang baik

Jalan-jalan sendiri apa nggak kesepian? Kadang iya. 

Salah satu siasatku biar tidak kesepian adalah memilih menginap di dormitori. Sekamar rame-rame, selalu saja nemu teman senasib yang sering kali bisa jadi teman jalan.

Nah satu yang paling aku nikmati selama solo traveling adalah ketemu orang-orang baik, orang asing yang tulus ngasih tangan mereka saat aku perlu bantuan, bahkan ada yang awet jadi teman baik.  Jadi merasa bahwa keluarga itu tak selalu yang setanah air.

Dari trip ke Perancis-Swiss kemarin, aku punya 2 moment yang paling berkesan. Pertama, Pengalaman paling tak terlupakan waktu di Swiss adalah pas mendadak ketiban kering tempe. Beneran berasa turun dari langit di saat yang bener-bener pas. Ceritanya aku lagi makan siang di pantry hostel setelah cape muterin Lauterbrunnen (iyes, jalan kaki). 

Nah, siang itu aku masak pasta bumbu garam (serius, cuman berasa asin) sama telor ceplok yang asin juga. Masih punya sedikit rendang suwir yang lebih berasa abon. Abon cabe ketinggalan di Interlaken, lebih tepatnya aku tinggal karena temanku ternyata suka.

Di meja sebelah ada anak perempuan umur 5 tahunan senyum-senyum sedang makan roti cane, wajahnya manis khas Asia, pas aku sapa dia ramah membalas. Tidak lama kemudian, Mamanya muncul, dengan akrab langsung menyapa dengan bahasa Melayu. (salah paham…), berhubung kagak mudeng aku reflek membalas dengan bahasa Indonesia.

Kering Tempe Ajaib

Namanya Mba Yuni, sebenarnya orang tuanya asli Indonesia, malahan kita berasal dari kota yang sama, lucu ya jodoh… tapi sejak lahir Mba Yuni sudah pindah dan jadi WN Malaysia. Bagian paling mengharukan adalah saat mendadak Mba Yuni nawarin kering tempe, pake teri and kacang tanah. Subhanallah….. bener-bener Allah itu dekat. Ga hanya dikasih kering tempe, tapi juga beras, nasi goreng instant, kari ayam instant, minyak goreng sama kecap ABC. Yes, kecap ABC made in Indonesia. Mbak Yuni bilang dia mo ngurangi bawaannya karena bentar lagi udah mo balik ke Malaysia. Kita sempat poto sekali dan tukar nomer HP. Udah janjian mo ngetrip bareng.

Pengalaman kedua, tentang kebaikan Parisian. Sudah jadi mitos international kalau Parisian itu tidak suka turis apalagi kalau turisnya tidak bisa bahasa Perancis. Pengalaman 2 kali ke Paris mementahkan mitos itu (ciyee… pro Parisian). Ceritanya (lagi) ngotong-ngotong (bahasa Jawa untuk menjinjing) koper ukuran 24” naik turun tangga di Metro station Paris itu sesuatu banget. Bahagianya setiap menginjakkan kaki di tangga pertama dengan penuh putus asa, ada aja cowok kece, mas-mas keren, bapak -bapakcakep sampai ibu-ibu berhijap yang dengan suka rela menawarkan bantuan. Sungguh touching my heart gently… makin cinta sama Paris. 

Begitu juga dengan Polisi-Polisi Paris. Sejak pengalaman pertama kesini, aku sudah teropsesi sama Polisi Perancis. Pesonanya….. ❤(klepek-klepek). And menurutku, Polisi selalu jadi pilihan paling aman dalam kasus tersasar. Suka usil pura-pura nyasar hanya untuk modus ngobrol sama mereka (mohon jangan ditiru maupun disebarluaskan ya… ini rahasia). Respon tiap polisi yang aku temui selalu positif, hangat, welcome, friendly, bikin ngrasa aman and sweet (udah deh, memenuhi requirement suami idaman pokok e). Entah aku yang beruntung atau memang lagi kebetulan, karena menurut cerita beberapa turis yang lain (terutama cowok), mereka tidak mendapat respon yang sama.

Menilik (apaan sih ni istilah) mitos mengenai Parisian yang arogan dan tidak ramah kepada turis, sedikit analisa sederhana selama 3 hari di Paris. Seandainya aku juga tinggal atau bekerja di pusat kota Paris, bisa jadi punya sikap yang sama. 

Well, Paris adalah kota yang paling banyak dikunjungi turis setiap tahunnya. Hampir setiap hari ramai, di jalanan, di tempat belanjaan, di restoran. Yang paling menyebalkan menurutku adalah perilaku turis saat di jalan, menyeberang misalnya, suka suka-suka meski sign merah untuk penyeberang jalan. Iya, bener, pejalan kaki adalah prioritas, namun, peraturan adalah untuk ditaati oleh semua pengguna jalan. Jadi, sekedar saran, dimanapun kita berada, sebagai turis, meski tamu adalah raja, kita harus selalu mentaati peraturan dan menghormati tuan rumah. Jadilah tamu yang baik,bukan hanya kita yang ingin menikmati Paris, tuan rumah juga punya urusan dan kesibukan mereka kan, 🙂

WWOOF TRIP 1 : PETERNAKAN KAMBING DI INTERLAKEN

Aku ingin berbagi cerita tentang solo trip ke Swiss dan Perancis. Trip ini adalah trip WWOOF, aku akan tinggal di 3 host yang berbeda, 2 di Swiss dan 1 di Perancis. Kalau mau tau apa itu WWOOF, silakan baca postingan sebelumnya ya,

Singkat cerita, aku memutuskan break kerja sementara. Planning ngisi waktu senggang dengan ngetrip WWOOF.

Inflight Meals Thai Airways

Sekitar Maret 2018 lalu, aku dapat tiket promo ke Zurich pake Thai Airway. Sept tahun 2017 kemarin, aku juga ke Swiss naik maskapai ini. Promonya lumayan dan service cukup baik. Rutenya JKT-BKK-ZRH. 

Setelah daftar di WWOOF Perancis dan Swiss, aku mulai mengirim beberapa email request. Sekitar 2 mingguan, aku mendapat respon dari 3 host, peternakan kambing di Interlaken Swiss, kebun apel di Bern dan kebun sayur di Perancis.

3 Sept 2018 Landing di Zurich masih pagi, jam 7:30. Langit mendung kelabu, langsung terserang hawa dingin pas turun pesawat. Setelah mengambil bagasi, aku menuju toilet untuk cuci muka sama gosok gigi. 

Tujuan pertamaku adalah host di Interlaken. Mereka adalah peternak kambing dan pembuat keju tradisional yang saat ini tinggal di area Alpen. Yup, pegunungan legendaris itu. Aku menghubungi Claudia, host-ku di Interlaken untuk konfirmasi kedatanganku plus info penjemputan. Dia bilang Angela, partnernya yang akan menjemputku di Interlaken Ost. Alhamdulillah udah pernah kesana jadi tidak begitu asing and kuatir nyasar. Udah booking day saver ticket untuk trip bandara ke Interlaken ost. Yes, transportasi adalah bagian yang paling bikin nyesek saat bikin budget ke Swiss. Mahalnya tiada terkira.

Tips : Untuk Transportasi di Swiss, silakan instal apilkasi SBB Mobile. Bisa pesan tiket online juga. Jika tidak terlalu lama di Swiss, dan ingin lebih hemat, Day Saver bisa jadi pilihan. Pesan jauh-jauh hari agar dapat harga lebih murah. Biasanya, aku dapat harga 52CHF, integrated untuk bus, kereta, kapal unlimited dalam area yang tercover dengan masa berlaku dari jam 00:01 sampai jam 05:00 hari berikutnya

Interlaken Ost Station

Perjalanan dari Zurich Airport ke Interlaken Ost hanya sekitar satu sejam setengah. Sampai di Interlaken Ost masih jam 11.30, padahal aku minta dijemput jam 2 siang. Jadinya aku ngemper di Ticket office, menikmati wifii gratis. 

Jam 2 pas, sebuah mobil ford silver, seperti info dari Claudia berhenti di parkir zone pas depan tempat aku duduk, seseorang yang sekilas first sight lebih mirip pria berjalan dengan senyum di bibirnya kearahku, reflek aku berdiri menyambut uluran tangannya. Hi, i am Angela… Hello, i am Emi. Thank you for picking me up. Sedikit salah tingkah karena aku memanggilnya Mrs, padahal dia lebih mirip Mister.

Interlaken dari atas

Angela membantuku membawa 2 karung bawaanku ke mobil. Horaaa…. sempat kaget karena di jok tengah duduk manis seekor anjing shepherd hitam dengan mata berbinar. Ok… kejutan kedua.

Sepanjang jalan Angela bercerita jika saat muda dia suka travelling, bahkan pernah tinggal di Medan selama 3 bulan. Dia masih ingat durian, kopi manis, ikan mas, sambal, hingga berhitung satu dua tiga empat tujuh. Dibalik penampilan tomboi-nya, Angela sangat ramah dan bersahabat, akupun jadi cepat nyambung ngobrol dengannya.

30 menit, mobil kami mulai masuk area hutan, kemudian parkir di kaki gunung pas disebelah papan bertulis “Alps”. Akupun tercengang karena disana hanya ada jalan setapak masuk hutan untuk hiking, dan itulah jalan yang harus aku tempuh (ehem) untuk menuju tempat Claudia beserta kambing-kambingnya, mungkin semalam hujan sehingga tanah nampak basah dan becek. Akupun berusaha menutupi kekagetanku dengan wajah excited palsu. Pura-pura sudah biasa naik gunung dan siap dengan medan apapun… padahal dalam hati ingin balik kanan, trus bikin tenda aja di seberang danau Interlaken sana.

Kambing yang Anggun

Angela menawarkan untuk menyimpan 1 tasku di rumah mereka di kota agar memperingan pendakian kami, itupun Angela menawarkan untuk membawa ranselku dan aku hanya membawa tas jinjing berisi barang-barang kecil. 10 menit mendaki, aku masih waras, nafas masih wajar meski ngos-ngosan, Alhamdulillah sudah sarapan di pesawat. 15 menit baru berasa nafas mulai seret, 20 menit mau pingsan. Melihat aku kecapaian, Angela menawarkan istirahat. Dari atas sini, pemandangan Interlaken nampak cantik, dengan danau warna turquois dan rumput hijau.

Setelah perjuangan naik gunung selama 50 menit, sampailah kami di sebuah rumah kayu dengan bagian belakang rumah terbuka, rupanya itu adalah tempat untuk memerah susu sehari 2 kali, bekas jejak kaki kaki kambing masih tercetak di tanah basah, aroma srintil (kotoran kambing) segar membahana, shock kesekian kali karena dibagian depan rumah ini adalah rumah tinggal yang akan aku tempati 10 hari ke depan. Kesan pertama, tentu saja jorok karena urin kambing sangat menyengat, sehingga tercium sampai di teras depan, bau yang kemudian hari membuatku rindu. Namun rumah bagian depan yang digunakan sebagai tempat Claudia membuat keju dan tempat tinggal kami lumayan bersih.

Saat itu, kebetulan sedang ada rombongan anak-anak SMP yang sedang menginap disana. Ada 3 anak lelaki dan 3 perempuan, yang ternyata berkebutuhan khusus. Mereka hanya menginap 2 malam untuk berakhir pekan dan melihat aktifitas pembuatan keju tradisional.

Claudia sendiri memiliki 3 putri cantik, si sulung Sajjane 11 tahun, Moira 8 tahun dan Thilia 5 tahun. Mereka adalah gadis kecil periang yang luar biasa mandiri dan cerdas. Claudia hanya tinggal di rumah gunung saat musim panas, dan gadis gadis kecil itu hanya disana saat libur sekolah. Mereka memiliki rumah di lembah, pas di tepi danau Interlaken. Sementara Angela hanya sesekali ke gunung, dia bertugas merawat rumah di lembah yang sekaligus menjadi penginapan AirBnB dan bertanggung jawab merawat beberapa kambing di tempat lain.

Fakta unik tentang bahasa di Swiss. Ternyata, Swiss memiliki bahasa German yang diadaptasi dengan bahasa Perancis dan Itali, karena negara ini terletak diantara 3 negara tersebut. Bahasa German Swiss berbeda dengan German asli, bahkan tidak mudah dipahami oleh native German. Secara resmi, di sekolah dan untuk urusan resmi lain, orang Swiss rata-rata menggunakan bahasa German, sementara untuk bahasa sehari-hari, mereka menggunakan Swiss German. Bahasa Perancis digunakan di wilayah yang berbatasan dengan Perancis seperti Neuchatel. Bahasa Itali di daerah yang mepet Itali. Pada setiap kemasan produk, ada penjelasan dalam 3 bahasa di atas.

Claudia memiliki seorang asisten, gadis shepherd asal German bernama Lea. Tampilannya nyentrik dengan rambut rasta, namun matanya teduh bersahabat. Sore itu juga Lea menawari aku untuk belajar memerah susu kambing. Huwaaaa…. 150an ekor kambing saudara-saudara. Beruntungnya, September adalah akhir musim panas sekaligus akhir musim produktif bagi kambing, sehingga rata-rata hanya perlu waktu sekitar 3 jam saja. Iya, 3 jam. Bayangin coba pas musim produktif,😖.

Kambing bukanlah binatang yang asing bagiku, mereka juga termasuk peliharaan yang loveable, tapi injakan marah kambing dewasa adalah sesuatu yang tidak bisa disebut mesra. Pertama memcoba memegang payudara (atau apa sih istilahnya?) mereka horor juga, takut menyakiti mereka, meski binatang, ada rasa solidaritas juga sebagai sesama wanita (hahahaha…), kan ga nyaman ya kalau bagian sensitif itu dipegang orang asing? Meski terlihat sederhana, namun memeras susu kambing ternyata tidak mudah, perlu jemari yang kuat.

Prosesnya, pertama semua kambing dimasukkan ke kandang, kemudian per 12 ekor dikeluarkan, diikat pada tempat khusus, kambing berjajar sambil diberi makan, mereka akan diperah satu persatu. Sebelum memasangkan vacuum, tiap puting harus diambil sample susu terlebih dahulu agar bisa diketahui jika ada kelainan, seperti nanah atau darah. Bisa terjadi pada kambing yang sedang sakit atau terinfeksi karena putingnya digigit bayi mereka yang menyusu. Setelah selesai diperah, 12 kambing tadi dikeluarkan lagi dan 12 kambing baru dimasukkan, begitu sampai selesai.

Susu segar hasil perahan selanjutnya didinginkan secara natural dengan air mengalir, can susu  dimasukkan ke dalam bak besar mirip bathtub, kemudian bak diisi air yang dibiarkan terus mengalir, biasanya semalaman. Air yang kami konsumsi adalah air dari pegunungan Alpn yang aman diminum langsung tanpa dimasak. Keren banget kan? Semacam punya pabrik aqua pribadi.

Esok harinya, susu tersebut baru akan diolah, susu dipanaskan dengan api dari kayu, hingga batas hangat tertentu kemudian diberi cairan khusus untuk keju. Setelah beberapa saat, susu akan menggumpal seperti yogurt, kemudian baru disaring untuk dicetak. Keju tidak suka dingin, jadi pada saat pembuatan harus selalu memperhatikan suhu. Ada pekerjaan lifting yang cukup berat selama proses ini. Termasuk menuang susu dari can ke panci gede untuk digodok. Aku sempat dapat luka bakar di pergelangan tangan karena  nyenggol panci panas pas bantuin Lea menuang susu.

Sambel Oelek made in Swiss

Claudia memiliki sebuah rumah kecil dari kayu untuk menyimpan keju, semua alami, tanpa proses kimia sedikitpun. Oiya, keju yang masih muda harus selalu diperiksa karena sangat rentan menjadi sarang larva serangga yang menerobos masuk ke ruangan. Setiap hari keju muda juga perlu dibolak balik dan dilumuri garam khusus. Ribet ya, seperti merawat bayi. Berbicara mengenai keju dari susu kambing, rasanya lebih kuat dari keju susu sapi, karenanya harganya lebih mahal. Bisa dibilang premium. 

Bersambung part 2

Learning by Travelling

Travelling bukan hobi alamiku. Aku dulu bukan hanya tidak suka jalan-jalan, tapi juga enggan bertemu orang baru. Aku menyukai duniaku yang itu-itu saja, disitu-situ saja. 

Somewhere in Sapporo, Japan 2017

Seseorang yang tak begitu mengenalku suatu hari menyampaikan fakta tentang diriku yang sudah aku tau. Bahwa aku orang yang terlalu introvert. Well, apa salahnya? 

Dia menyarankan aku untuk belajar membuka diri. Entah mengapa, kata-kata itu seperti ‘wake up call’ yang ku tanggapi dengan serius. Aku sadar bahwa aku memang ingin membuka diri pada pengalaman baru, pada orang-orang baru dan sudut pandang baru.

Menantang dan melakukan sesuatu yang kita takuti itu menyenangkan. Hingga akhirnya malah menjadi kecanduan. Begitulah perkenalanku dengan travelling. Berawal dari takut, memulai dengan memaksakan diri dan akhirnya jadi ketagihan.

Aku kagum bagaimana travelling mengubahku. Mengajariku banyak hal, yang lebih banyak tanpa aku sadari. Bagaimana tiba-tiba aku merasa akrab semeja dengan orang yang baru aku kenal, berbagi kamar bersama orang asing dalam dormitori tanpa merasa khawatir, perasaan nyaman berada di sebuah tempat jauh dari rumah, tanpa mengenal siapapun. Sejak kapan aku bisa begitu? Sejak solo tripku yang pertama.

Aku lebih menyukai solo travelling. Tentu saja karena aku seorang introvert. Selain itu, aku menikmati kebebasan. Bebas menentukan budget, tujuan, jadwal, dan bebas dari berkompromi yang tak perlu.

Apa aku tak merasa kesepian, atau merasa seperti orang hilang? Sesekali, sangat jarang. Aku yang biasanya enggan menyapa orang asing, jadi lebih ringan mengatakan “Hi… “, membuka percakapan dengan basa basi yang bermuara pada pertemanan, bahkan cinta.

Bagi sebagian orang, travelling itu semacam pemborosan. Namun, ada banyak cara untuk menghemat, jika motivasi utama bukan sekedar foya-foya atau belanja. Travelling tidak selalu tentang hotel mewah, makan di resto mahal atau belanja branded. Traveler is not just a tourist. Traveler lebih menikmati mengexplore pengalaman baru, menikmati sesuatu yang berbeda dari 1 tempat ke tempat lain, mengenal orang-orang asing.

Setiap perjalanan, selalu menyimpan cerita berbeda, bahkan meski kita melakukannya bersama-sama. Aku dan kamu tidak akan bisa melukis sebuah memory yang persis. Itulah yang membuat setiap perjalanan itu unik dan menantang. Ada kalanya di luar rencana, ada kalanya melebihi expektasi. Menikmati dan menerima apapun yang kita temui di jalan, mengajari kita bersyukur.

Travelling is not just a hobby for me, its a need. 

WWOOF TRIP 1 : PETERNAKAN KAMBING DI INTERLAKEN – PART 2

Hari kedua di Alpn, Claudia menawariku untuk ikut naik ke puncak gunung menengok kawanan kuda peliharaan mereka dan kuda orang sekitar yang dititipkan untuk mereka rawat. Yup, Claudia dan Angela menerima penitipan kambing dan kuda penduduk desa untuk dijaga selama musim panas di gunung. Aku sangat excited untuk ikut, maklum.. karena awalnya yang terbersit cuman jalan2 dan hunting foto keren dari atas.

Namun apalah daya, baru sekitar 30 menit atau 1/4 jalan aku sudah menyerah. Medan berat menanjak plus licin. Si Thilia, anak Claudia paling kecil lincah loncat sana loncat sini memimpin di depan sambil nerocos bahasa German Swiss yang aku ga mudeng. Well, karena sungkan kebanyakan minta istirahat, akhirnya aku memilih berhenti dan menunggu mereka balik di dekat air terjun. Claudia bilang, mungkin sekitar 3 atau 4 jam, dan jika aku bosan menunggu, aku disarankan untuk pulang. Aku memilih menunggu mereka di dekat air terjun. (jadi ingat cerita Coban Rondo).

Setelah puas poto-poto dan makan beng-beng, bekal perjalanan, aku jadi penasaran ingin naik, dan inilah awal mula cerita tersasar di Apln Swiss. Detailnya aku tulis terpisah ya,

Hari ketiga, anak-anak sekolah dan guru mereka pamit pulang setelah sarapan dan mencuci semua perabot makan yang mereka pakai. Mereka juga turun gunung dengan membawa sampah selama menginep. Patut dicontoh!.

Sebenarnya aku ditawari untuk tidur di sebuah rumah kayu sekitar 10 menit dari rumah Claudia, yang awalnya ditempati rombongan anak sekolah, tapi berhubung mesti tinggal sendiri dan tidak ada toilet, maka aku memilih tetap tinggal serumah, meski di sebuah bilik kecil di kolong atap yang biasanya digunakan untuk menyimpan kayu bakar. Claudia meminjamiku sleeping bag hangat milik Angela, dan itu cukup. Namanya juga numpang, sekaligus menikmati hidup di alam. Aku mencoba menempatkan diri layaknya Paris Hilton &  Nicole Richi pas main reality show Simple Life, Googling dah kalau penasaran gimana serunya.👸

Hari ketiga normal, aku membantu Claudia dan Lea memerah susu setiap pagi, jam 6 dan sore jam 5.  Selebihnya bebas, kalau mau naik gunung silakan, cuman masih trauma, jadi aku memilih bermain dengan anak-anak atau melihat proses pembuatan keju.

Waktu kami baru memulai memerah di sore harinya, tiba-tiba Claudia dan Lea berbicara keras, kemudian Lea keluar dan ga balik balik, jadilah tinggal aku dan Claudia. Aku memilih tidak bertanya ada apa. Berhubung mereka berbicara bahasa Jerman, aku ga mudeng kalau Claudia barusan sedang memarahi Lea karena ada 15 ekor kambing yang tidak pulang dan menurut Claudia itu karena Lea tidak profesional. Setelah kami selesai memerah, Claudia membersihkan semua peralatan, dia pamit untuk mencari kambing yang ilang, sekalian mencari Lea.

Kebayang ga sih, seorang wanita, sendirian ke gunung segede pegunungan Alpn, mencari kambing yang suka-suka mau mampir atau nongkrong dimana saja. But, dia bilang, sebagai seorang penggembala profesional, mereka harus memastikan semua kambing pulang dengan aman, entah itu mereka lagi cape, entah itu sedang hujan ataupun malam hari. Luar biasa! Jadi teringat kursi empuk, komputer dan AC di kantor. Betapa aku mesti banyak bersyukur.

Claudia belum pulang hingga aku tidur jam 11 malam.  Claudia hanya mengandalkan listrik dari solar system, jadi untuk menghemat energi, jam 10 malam, setelah dinner, semua lampu mati. Iya, gelap gulita. Hanya ada suara klinting-klinting dari lonceng kalung kambing-kambing di luar sana. Kesederhanaan yang indah.

Hari ke-4 Hari ini hujan rintik, bikin udara jadi drop dingin banget. Fakta tentang kambing, mereka tidak suka hujan. Jadi saat pagi kami memerah susu, lebih sulit untuk memaksa mereka keluar. Kasihan juga ya, dingin-dingin hujan-hujanan di gunung. Apa kambing Swiss tahan masuk angin? Sepertinya begitu

Lea dan Claudia sudah berbaikan seperti tidak terjadi apa-apa pagi ini. Kami memerah susu bertiga. Seperti biasa, setelah selesai memerah susu, Lea menyiapkan bekalnya untuk naik gunung. Wajahnya agak dingin hari ini, sedingin udara di luar. Well, berangkat ke kantor pas hujan aja males kan, apalagi ke gunung coba? Jika itu bukan sebuah dedikasi atas profesi (catet tu…), atau gaji… well, anything, up to you.

Hari ini aku hanya akan melihat dan membantu Claudia membuat keju. Dia banyak bercerita tentang dirinya. Tentang ayahnya yang meninggal karena leukemia dan tentang perjuangannya hingga memulai usaha ini bersama Angela. 

Claudia, wanita kuat dengan mata yang indah. Pertama kali bertemu dengannya, aku hanya melihat sesosok wanita cantik berambut pirang yang lebih cocok jadi bintang film dari pada seorang penggembala kambing. Namun ternyata dia juga sangat cerdas. Claudia menguasai 6 bahasa asing dan bisa memainkan hampir semua alat musik. Dia mampu mengingat apapun hanya dengan sekali lihat atau sekali belajar. Claudia memilih menjadi pembuat keju karena itu adalah passion-nya. 

Cerita menarik tentang proteksi kesehatan bagi orang Swiss. Sebagai negara yang terkenal makmur kaya raya, aku tidak menyangkan kalau asuransi kesehatan juga menjadi masalah bagi mereka. Pada kasus ayah Claudia, pemerintah juga menanggung pengobatan beliau, namun untuk mendapat obat yang lebih baik, mereka harus mengeluarkan uang extra yang cukup banyak, aku tidak bertanya berapa CHF, namun bagi Claudia itu angka yang hanya mampu ditanggung oleh kalangan menengah atas, dan akhirnya pun tidak memberi kesembuhan. Sejak saat itu, Claudia mengaku kehilangan kepercayaan terhadap dokter dan rumah sakit, dia merasa mereka adalah mafia. Dia sekarang lebih memilih pengobatan alternatif, a.k.a dukun. Yess, Swiss juga punya dukun, Kakak.

Bersambung…

Alternatif Liburan Tak Biasa Dengan Budget Tipis; Cobain Jadi WWOOFer Deh,

Pernah mengkhayal jalan-jalan keliling dunia seperti di cerita buku atau tipi-tipi?

Pernah mimpi liburan dengan budget minim tapi bisa bebas dan berlama-lama? jika kamu bukan tipe turis cantik dan pingin merasakan sebuah pengalaman tinggal bersama orang lokal sambil belajar budaya sekaligus cinta alam dan tanam menanam? Cobain ini deh.

Taken from wwoof.net

Yaitu WWOOF, Worldwide Opportunity on Organic Farms. Kepanjangannya ada yang beda di negara lain. Seperti namanya “World Wide”, organisasi ini tersedia di seluruh dunia, dengan website beda-beda di setiap negara. WWOOF memberi kesempatan untuk menjadi bagian dari gerakan organic farming, yang memberi akses untuk mempromosikan budaya, pengalaman edukasi berdasarkan kepercayaan dan non monetary  exchange, sehingga membantu membangun global komuniti yang berkelanjutan. Kira kira begitulah terjemahan dari deskribsi di web WWOOF. Silakan buka web nya disini kalau mau tau lebih lanjut biar lebih familiar: WWOOF 

Cara daftarnya gimana?

Kita bisa mendaftar menjadi volunteer, biasa disebut WWOOFer atau juga menjadi host. Untuk jadi volunteer, buka web-nya, terus tinggal pilih negara tujuan, bayar membership fee, kemudian kita akan mendapat user name dan password untuk mengakses nama-nama host. Masing-masing negara punya website sendiri, jadi mesti bayar membership masing-masing. 

Iyes, bayar! Sekitar 20-40an USD, beda-beda tiap negara, untuk membership setahun, dan bisa digunakan untuk apply WWOOFer di negara yang sama beberapa kali. Menurutku sih sangat murah, dibanding manfaat yang kita dapat. Ada diskon membership untuk 2 orang atau lebih. Yuk ajak teman atau saudara.


Aktifitas di tempat Host apa aja?

Untuk jenis pekerjaan bisa sangat beragam, ada peternakan, pertanian sayur, kebun buah, sekolah alam, penginapan, yang pasti semuanya menjalankan pola organik. Pekerjaan juga sangat tergantung musim saat kita datang, contoh kalau kita milih di perkebunan buah di Eropa, pas musim semi kan baru berbunga, jadi bisa bantuin ngrawat tanaman, nyabut rumput, dll. Kalau pas musim gugur, biasanya musim panen, bantuin petik buah. Kalau pilih ke NZ atau Ausi beda musim sama Eropa ya, jadi cari tau dulu sebelum berangkat.

Dapat gaji gak?

WWOOF bisa dibilang 100% non monetary, tidak ada upah dan tidak ada ongkos tinggal maupun makan. Namun ada juga beberapa host yang memberi uang saku, tergantung dari kebijakan masing masing host. 


Jenis akomodasinya gimana?

Kondisi penginapan yang disediakan oleh tuan rumah beragam, biasanya dijelaskan di detail host. Pengalamanku sendiri, pas di Jepang bener-benar beruntung dapat kamar luas, bersih dan full wifii. Di Interlaken, Swiss tidur di sleeping bag di kolong atap, di Bern Swiss dapat kamar normal, di Ales Prancis dapat kamar tamu.

Kalau makanan?

Ada di deskripsi host Kita bisa makan bareng host, masak sendiri dengan bahan dari mereka atau masak bareng. Biasanya host peduli diet tamu. Seperti halal, vegetarian, gluten free, etc. 

Visa dan tiket?

Mengenai ongkos perjalanan menuju tempat host adalah 100% tanggungan WWOOFer. Termasuk visa, dll. Namun, ada juga host yang mau ngasih support. Coba aja kontak dulu,


Berapa lama kita boleh tinggal?

Bisa beberapa hari sampai beberapa bulan. Ada juga host yang mau menerima tamu sampai setahun.  

Terus soal bahasa?

Rata-rata host bisa bahasa Inggris, tidak semua anggota keluarga sih, tapi setidaknya selalu ada. Nilai plus banget kalau kita bisa bahasa setempat. Ngobrol jadi lebih nyambung.


Masing-masing negara memiliki website yang deskribsinya beda-beda, ada yang memuat info detail banget tentang Host. Dari 3 website negara yang aku daftar yaitu Jepang, Prancis dan Swiss, Jepang adalah yang paling lengkap. Ada info binatang peliharaan, usia semua penghuni rumah, anak jika ada, binatang ternak, info tentang aturan merokok dan minum alkohol, dll. Sementara Swiss adalah yang tidak memiliki online website, jadi setelah bayar membership, kita akan menerima email file PDF nama-nama host yang aktif, deskribsi singkat dan kontak mereka. Itu saja. Jadi sedikit sulit membayangkan kondisi keluarga host. Karena itu juga sih pengalamanku jadi WWOOFer di Swiss jadi penuh cerita 😆

Jika ditanya apakah WWOOF 100% aman? Back to basic, based on trust! Yup, totally hanya modal kepercayaan dan positif thinking. Pengalamanku menjadi WWOOFer 4 kali di 3 negara berbeda mengajariku untuk percaya kepada orang asing, menerima hal-hal baru dan terbuka dengan budaya yang totally different. Kalaupun ternyata kita tidak cocok dengan situasi rumah host, kita bisa pamit lebih awal, tentunya dengan cara yang sopan. Memang sih, tak semua pengalaman jadi WWOOFer itu indah, ada ga enaknya juga, baca postingan selanjutnya ya…

Apa bedanya WWOOF dengan Couchsurfing dan sejenisnya? Kalau jadi WWOOFer, kita mesti kerja paruh waktu karena dapat makan and akomodasi gratis. Sementara saat menjadi surfer kita tidak punya kewajiban bantu-bantu host, dan ga berhak minta makan. WWOOFer otomatis mengurangi waktu kita untuk santai jalan-jalan, tapi normalnya kita mendapat libur setelah 4-5 hari kerja atau setiap Sabtu Minggu.

Berikut beberapa Tips jadi WWOOFer berdasarkan pengalamanku:

  1. Teliti detail host yang akan kita pilih. Pilih host yang sudah punya review dari WWOOFer lain. Untuk referensi.
  2. Sebaiknya mengirim email request sewajarnya saja, 2-3 host cukup. Jika sampai 1-2 minggu tidak ada tanggapan, cobalah untuk meng-follow up lagi. Jika tetap tidak ada respon, baru kirim email request lainnya. Pada umumnya host cukup responsif. Jika kita terlanjur mengirim banyak request bersamaan, dan menerima banyak approval, ga enak juga kan mesti membatalkan permintaan sendiri. 
  3. Sebaiknya pilih daerah yang ga terlalu jauh dari pusat kota, biar ga susah aksesnya meskipun biasanya host nawari penjemputan.
  4. Barengan sama teman, 2 orang paling ideal
  5. Menyiapkan mental untuk kondisi terburuk, namanya juga farming, terutama untuk yang ga pernah main ke kebun sama sekali. Siap mental juga untuk culture shock.
  6. Siapkan oleh-oleh kecil dari negara kita, apapun itu pasti akan memberi kesan baik. Sekaligus perkenalan budaya.
  7. Bawa makanan lokal dari rumah, untuk jaga-jaga mungkin kita tidak bisa makan masakan di rumah host.
  8. Jadilah semacam duta yang baik untuk negara kita, menjaga sikap dan sopan santun dimanapun berada dan apapun budaya setempat.
  9. Be positif, respectful, open minded dan siap untuk petualangan seru apa aja. Tapi jangan lupa tetap waspada dan mawas diri. Namanya juga tamu, mesti tau diri
  10. Minta ijin dulu kalau mo poto-poto ya,

Seru kan? buruan deh lihat cek webnya dan ajak teman nyobain trip ini bareng,

Design a site like this with WordPress.com
Get started